Aristoteles Halaman: 304 (viii + 298) Ukuran: 15 x 23 cm ISBN: Proses Harga:
Etika Nikomakea adalah salah satu teks filsafat yang paling bertahan dalam sejarah pemikiran manusia. Ditulis oleh Aristoteles pada abad keempat sebelum Masehi, karya ini bukan sekadar dokumen intelektual dari masa lampau, melainkan sebuah percakapan yang terus hidup—sebuah upaya serius untuk menjawab pertanyaan yang tidak pernah benar-benar usang: apa artinya hidup dengan baik? Di tengah zaman yang menawarkan begitu banyak pilihan namun kerap membuat orang merasa kehilangan arah, Etika Nikomakea menawarkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan literatur populer tentang kebahagiaan: bukan formula atau langkah-langkah praktis, melainkan sebuah kerangka berpikir untuk memahami apa yang sesungguhnya kita kejar dan mengapa. Aristoteles tidak menjawab pertanyaan itu untuk kita. Ia mengajarkan kita cara bertanya dengan lebih baik—dan itu, boleh jadi, jauh lebih berharga. Buku ini membentangkan perjalanan menuju pemahaman tersebut secara sistematis. Mulai dari sifat kebajikan (aretē); jalan tengah (mesotēs); berbagai kebajikan; hingga bagaimana kehidupan kontemplatif menjadi bentuk kehidupan terbaik, tanpa mengabaikan pentingnya persahabatan, kesenangan, dan kehidupan bersama di dalam polis.
Adnan Katino; editor, Ummu Eni Apa yang membuat buku ini istimewa adalah pendekatannya yang sederhana, komunikatif, dan penuh analogi. Penulis tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca berdialog layaknya dua sahabat yang sedang ngobrol santai. Setiap bab disusun secara bertahap, dari fondasi paling dasar hingga aplikasi nyata dalam berbagai aspek kehidupan.
Adnan Katino; editor, Ummu Eni Bahasa Indonesia Ukuran 13 x 19 cm 288 Halaman Harga ISBN
Mengapa “Logika Tuhan”? Karena aku percaya bahwa Tuhan, sebagai Pencipta Yang Maha Segalanya, pasti memiliki “cara berpikir”, memutuskan, dan melihat yang berbeda secara fundamental dari kita, makhluk-Nya yang serba terbatas. Lalu, apakah kita bisa “menebak” logika itu? Tentu tidak sepenuhnya. Tapi kita bisa merasakan jejaknya dalam keteraturan alam, kegelisahan hati, senyum seorang ibu yang kelelahan, diamnya malam, dan dari petunjuk wahyu dan sabda Nabi-Nya.
AF. Bassam Taqiy Bahasa Indonesia Ukuran 13 x 19 cm 308 Halaman Harga Rp. ISBN :
Nashaihul Ibad adalah kitab populer di dunia pesantren yang berisi kumpulan nasihat untuk memperkuat spiritualitas dan akhlak seorang Muslim. Tujuan: Memberikan peringatan dan bimbingan praktis bagi hamba Allah agar lebih siap menghadapi hari kiamat dan memperbaiki hubungan dengan sesama makhluk. Penulis: Disusun oleh Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang pernah menjadi Imam Besar di Masjidil Haram. Asal-Usul: Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) atas kitab Al-Munabbihat 'alal Isti'dad li Yaumil Ma'ad karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Struktur Isi: Terdiri dari 10 bab yang dikelompokkan secara numerik (nasihat yang terdiri dari 2 perkara, 3 perkara, hingga 10 perkara). Jumlah Nasihat: Memuat sekitar 214 nasihat (ada juga referensi yang menyebutkan hingga 1072 poin nasihat kecil) yang bersumber dari hadis Nabi, atsar sahabat, dan perkataan para ulama.
“Tuhan di Ujung Logika” menggambarkan pergulatan intelektual yang terus berlangsung antara rasio dan keyakinan. Sains berusaha menjelaskan semesta melalui hukum alam dan pembuktian empiris. Filsafat mempertanyakan sebab pertama dan makna eksistensi. Logika menuntut konsistensi argumen, sementara seni mengekspresikan pengalaman spiritual secara simbolik. Di sisi lain, iman melampaui batas pembuktian rasional dan berdiri pada kepercayaan batin. Perdebatan ini tidak pernah benar-benar selesai, karena masing-masing pendekatan memiliki wilayah dan metode berbeda. Justru dalam ketegangan itulah manusia terus mencari kebenaran, menafsirkan realitas, dan merenungkan kemungkinan adanya Yang Transenden di balik batas akal.
“Etika Tanpa Tuhan – Ketika Algoritma Menggerus Agama” menggambarkan pergeseran otoritas moral dari ajaran spiritual menuju sistem berbasis data. Di era kecerdasan buatan dan media sosial, algoritma tidak hanya mengatur informasi, tetapi juga membentuk opini, preferensi, bahkan standar benar dan salah. Manusia semakin sering mengambil keputusan berdasarkan tren, validasi digital, dan logika mesin. Akibatnya, nilai agama yang dahulu menjadi rujukan etika perlahan tersisih oleh efisiensi, popularitas, dan kepentingan pasar. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah moralitas tetap kokoh tanpa fondasi transenden, atau justru berubah mengikuti pola kode dan kepentingan teknologi?
Pernah ngerasa bersalah banget sama Allah sampe kamu nanya, Aku salah apa sih, Ya Allah? Kok hukumannya gini amat?' Buku ini kayak temen ngobrol yang bakal nemenin kamu temuin jawabannya.
Gak cuma curhat doang, tapi juga kasih pencerahan; jangan-jangan penderitaan itu bukan hukuman, tapi cara Allah ngasih kamu kesempatan buat tumbuh.
Di sini, kamu bakal nemu cara mengubah rasa bersalah jadi kekuatan, dan luka jadi pelajaran.
Karena sebenernya, Allah lagi ngasih kamu ujian special; bukan buat ngancurin kamu, tapi buat agar kamu upgrade level diri dan iman!